Teori Difusi Inovasi
Teknologi komunikasi telah berkembang secara pesat di era post
modernism ini. Banyak inovasi-inovasi media komunikasi yang ditawarkan
kepada masyarakat dunia. Penyebaran inovasi ini sering disebut dengan istilah
difusi inovasi media. Roger mendefinisikan teori Difusi Inovasi sebagai proses
penyampaian atau penyebaran sebuah inovasi yaitu sebuah cara baru dalam
melakukan sesuatu melalui media dan jalur- jalur interpersonal dalam kurun
waktu tertentu di sebuah komunitas masyarakat
Menurut
Rogers difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan
dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru
Dalam proses difusi inovasi
terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1.
Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap
baru oleh seseorang.
2.
Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan
pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima,
seperti media massa atau lewat jalur interpersonal.
3.
Jangka waktu; proses keputusan inovasi, mulai dari seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima
atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan
dimensi waktu.
4.
Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara
fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka
mencapai tujuan bersama
Menurut
Roger tahapan inovasi media komunikasi disebarkan sebagai berikut :
tahap pertama adalah masyarakat
mendengar informasi mengenai inovasi media dari media masa dan jalur-jalur
antar personal. Ciri masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat audio
atau metode dari mulut ke mulut sangat efektif digunakan untuk menyebarkan
informasi di masyarakat kita. Testimoni teman, saudara atau rekan kerja akan
kehebatan atau kemutakhiran suatu produk inovasi media sering lebih kita percaya
dibandingkan membaca manual suatu produk itu sendiri.
Roger kemudian mengungkapkan tahap
berikutnya, di mana setelah informasi diterima oleh masyarakat, mereka
mengevaluasi informasi tersebut berdasarkan harga dan fungsinya. Kita sering
mendengar rekan atau saudara kita bertanya,”Wow..keren nich handphone baru.
Berapa duit?” Dari jawaban pertanyaan tadi, mereka menimbang apakah gadget tadi
sesuai dari segi fungsi dan daya beli mereka. Media massa berperan penting di
sini dalam difusi inovasi media. Pemberitaan positif akan lebih memberikan
informasi positif sehingga masyarakat Indonesia akan berpikir secara positif,
begitu juga sebaliknya.
Tahap ketiga adalah memutuskan untuk
mencoba dan membeli produk media inovatif tersebut.
Meski demikian, tahap ke empat,
masyarakat tetap akan mengevaluasi ulang apakah produk inovasi tersebut sesuai
dengan harapan mereka berdasarkan pengalaman mereka menggunakan produk
tersebut. Dan apalagi ternyata kurang sesuai, maka mereka cenderung menolak
atau mengganti fungsi produk inovasi tersebut.
Misalnya, setelah Badi ikut
membeli smartphoneyang sama dengan rekannya di kantor, karena
menurut rekannya fitur smartphone tersebut bagus dan mutakhir,
Badi menemukan kamera smartphone tersebut kurang begitu tajam.
Sehingga, ia akan mengganti fungsi smartphonenya hanya untuk browsing, tapi
tidak untuk memotret.
Faktor-faktor yang membuat difusi
inovasi media ini berhasil dan diminati oleh masyarakat, menurut Everett M.
Roger, adalah sifat pemberitaan media masa dan pengalaman orang lain yang
menggunakan produk inovasi tersebut sebelumnya. Bila pemberitaan media dan
testimoni pengguna sebelumnya positif, maka kemungkinan besar difusi inovasi
tersebut akan berhasil.
Nilai sosial juga mempengaruhi difusi inovasi
media. Nilai sosial di sini mengacu padaimage pengguna, yang
kemudian berdampak pada image produk tersebut. Seperti
contohnya, di Indonesia, telepon genggam mempunyai nilai fungsional pada
awal-awal masuknya ke pasar Indonesia. Hal ini dipicu oleh faktor harga dan
ke-empat tahap bagaimana inovasi media komunikasi tersebut disebarkan. Namun
sekarang, telepon genggam mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi akibat
istilah smartphone yang disebarkan oleh media masa, sehingga
penggunanya pun lebih melihat gadget ini tidak hanya mempunyai
nilai fungsional tapi juga nilai mewah.
Meski demikian, masyarakat tidak
semata-mata langsung menerima ide inovatif begitu saja. Ada yang cepat
menerima, ada juga yang bersikap skeptis. Roger mengelompokkan para pengguna
inovasi media ini menjadi 5 kelompok.
Setiap kali terjadi difusi inovasi
media, kelompok pertama pengguna inovasi media tentu saja adalah kalangan
pencetusnya sendiri yang sering disebut innovators. Karena
mereka tertarik akan isu-isu inovatif, biasanya kelompok ini berkarateristik
cerdas dan eksperimental dalam artian berani mengambil resiko mencoba sesuatu
yang baru.
Kelompok kedua disebut early
adopters, adalah mereka yang sering mengikuti berita-berita inovatif
melalui publikasi media khusus, majalah – majalah teknologi, jurnal – jurnal
teknik informatika. Dalam konteks masyarakat Indonesia, mereka ini biasanya
akademisi yang juga bekerja sebagai praktisi, tokoh-tokoh sosial yang popular
dan terpelajar.
Setelah menjadi tren, maka muncullah
kelompok pengguna ketiga yaitu early majority, di mana
karakteristiknya adalah pengikut tren mainstream (yang
diadopsi oleh banyak orang dan banyak dilihat di media masa). Biasanya pengikut
tren berasal dari kalangan menengah ke atas seperti misalnya kaum socialite,
eksekutif muda bahkan para remaja.
Kelompok late majority datang
agak belakangan karena kelompok ini berfikir secara hati-hati, sehingga
menunggu testimoni dan pemberitaan positif dari produk inovatif tersebut,
sebelum ikut menggunakannya. Misalnya, para ibu rumah tangga yang tidak terlalu
peduli dengan inovasi media.
Kelompok terakhir adalah laggards.
Kata laggards, berarti lamban/ kuno. Kelompok ini berkarakteristik tradisional,
skeptic dan enggan mencoba inovasi baru. Biasanya kalangan masyarakat berusia
tua, atau mereka yang bukan dari generasi post modernism.
media massa sangat berperan dalam
membawa dampak yang cukup signifikan dalam difusi inovasi media bagi masyarakat
Indonesia. Hal ini didasari oleh pertama, profil masyarakat Indonesia sebagai
pemirsa televisi yang cenderung meniru apa yang mereka lihat di televisi
melalui sebuah proses yang disebut pembelajaran melalui pengamatan. Kedua,
media massa di Indonesia menggunakan pendekatan Teori Agenda Setting.Teori
ini menekankan tentang media massa menggunakan tokoh publik atau acara-acara
penting dalam membentuk opini publik. Jumlah pemberitaan media mengenai suatu
produk atau isu terbukti berbanding lurus dengan hasil pemberitaan yang
diharapkan. Dan itu terbukti dalam masyarakat Indonesia yang sering menjadi
korban iklan.
Teori
Difusi Inovasi senantiasa dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat.
Inovasi merupakan awal untuk terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial
pada dasarnya merupakan inti dari pembangunan masyarakat.
Perubahan sosial sendiri terjadi dalam 3
(tiga) tahapan, yaitu:
(1)
Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru
diciptakan atau dikembangkan.
(2)
Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru
dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial
(3)
konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial
sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar