Kamis, 17 Desember 2015

Teori Difusi Inovasi Media

Teori Difusi Inovasi

Teknologi komunikasi telah berkembang secara pesat di era post modernism ini. Banyak inovasi-inovasi media komunikasi yang ditawarkan kepada masyarakat dunia. Penyebaran inovasi ini sering disebut dengan istilah difusi inovasi media. Roger mendefinisikan teori Difusi Inovasi sebagai proses penyampaian atau penyebaran sebuah inovasi yaitu sebuah cara baru dalam melakukan sesuatu melalui media dan jalur- jalur interpersonal dalam kurun waktu tertentu di sebuah komunitas masyarakat

Menurut Rogers difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru

Dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1.        Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang.
2.        Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima, seperti media massa atau lewat jalur interpersonal.
3.        Jangka waktu; proses keputusan inovasi, mulai dari seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu.
4.        Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama   

Menurut Roger tahapan inovasi media komunikasi disebarkan sebagai berikut :

tahap pertama adalah masyarakat mendengar informasi mengenai inovasi media dari media masa dan jalur-jalur antar personal. Ciri masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat audio atau metode dari mulut ke mulut sangat efektif digunakan untuk menyebarkan informasi di masyarakat kita. Testimoni teman, saudara atau rekan kerja akan kehebatan atau kemutakhiran suatu produk inovasi media sering lebih kita percaya dibandingkan membaca manual suatu produk itu sendiri.

Roger kemudian mengungkapkan tahap berikutnya, di mana setelah informasi diterima oleh masyarakat, mereka mengevaluasi informasi tersebut berdasarkan harga dan fungsinya. Kita sering mendengar rekan atau saudara kita bertanya,”Wow..keren nich handphone baru. Berapa duit?” Dari jawaban pertanyaan tadi, mereka menimbang apakah gadget tadi sesuai dari segi fungsi dan daya beli mereka. Media massa berperan penting di sini dalam difusi inovasi media. Pemberitaan positif akan lebih memberikan informasi positif sehingga masyarakat Indonesia akan berpikir secara positif, begitu juga sebaliknya.

Tahap ketiga adalah memutuskan untuk mencoba dan membeli produk media inovatif tersebut.

Meski demikian, tahap ke empat, masyarakat tetap akan mengevaluasi ulang apakah produk inovasi tersebut sesuai dengan harapan mereka berdasarkan pengalaman mereka menggunakan produk tersebut. Dan apalagi ternyata kurang sesuai, maka mereka cenderung menolak atau mengganti fungsi produk inovasi tersebut.

Misalnya, setelah Badi ikut membeli smartphoneyang sama dengan rekannya di kantor, karena menurut rekannya fitur smartphone tersebut bagus dan mutakhir, Badi menemukan kamera smartphone tersebut kurang begitu tajam. Sehingga, ia akan mengganti fungsi smartphonenya hanya untuk browsing, tapi tidak untuk memotret.

Faktor-faktor yang membuat difusi inovasi media ini berhasil dan diminati oleh masyarakat, menurut Everett M. Roger, adalah sifat pemberitaan media masa dan pengalaman orang lain yang menggunakan produk inovasi tersebut sebelumnya. Bila pemberitaan media dan testimoni pengguna sebelumnya positif, maka kemungkinan besar difusi inovasi tersebut akan berhasil.

Nilai sosial juga mempengaruhi difusi inovasi media. Nilai sosial di sini mengacu padaimage pengguna, yang kemudian berdampak pada image produk tersebut. Seperti contohnya, di Indonesia, telepon genggam mempunyai nilai fungsional pada awal-awal masuknya ke pasar Indonesia. Hal ini dipicu oleh faktor harga dan ke-empat tahap bagaimana inovasi media komunikasi tersebut disebarkan. Namun sekarang, telepon genggam mempunyai nilai sosial yang sangat tinggi akibat istilah smartphone yang disebarkan oleh media masa, sehingga penggunanya pun lebih melihat gadget ini tidak hanya mempunyai nilai fungsional tapi juga nilai mewah.

Meski demikian, masyarakat tidak semata-mata langsung menerima ide inovatif begitu saja. Ada yang cepat menerima, ada juga yang bersikap skeptis. Roger mengelompokkan para pengguna inovasi media ini menjadi 5 kelompok.

Setiap kali terjadi difusi inovasi media, kelompok pertama pengguna inovasi media tentu saja adalah kalangan pencetusnya sendiri yang sering disebut innovators. Karena mereka tertarik akan isu-isu inovatif, biasanya kelompok ini berkarateristik cerdas dan eksperimental dalam artian berani mengambil resiko mencoba sesuatu yang baru.

Kelompok kedua disebut early adopters, adalah mereka yang sering mengikuti berita-berita inovatif melalui publikasi media khusus, majalah – majalah teknologi, jurnal – jurnal teknik informatika. Dalam konteks masyarakat Indonesia, mereka ini biasanya akademisi yang juga bekerja sebagai praktisi, tokoh-tokoh sosial yang popular dan terpelajar.

Setelah menjadi tren, maka muncullah kelompok pengguna ketiga yaitu early majority, di mana karakteristiknya adalah pengikut tren mainstream (yang diadopsi oleh banyak orang dan banyak dilihat di media masa). Biasanya pengikut tren berasal dari kalangan menengah ke atas seperti misalnya kaum socialite, eksekutif muda bahkan para remaja.

Kelompok late majority datang agak belakangan karena kelompok ini berfikir secara hati-hati, sehingga menunggu testimoni dan pemberitaan positif dari produk inovatif tersebut, sebelum ikut menggunakannya. Misalnya, para ibu rumah tangga yang tidak terlalu peduli dengan inovasi media.

Kelompok terakhir adalah laggards. Kata laggards, berarti lamban/ kuno. Kelompok ini berkarakteristik tradisional, skeptic dan enggan mencoba inovasi baru. Biasanya kalangan masyarakat berusia tua, atau mereka yang bukan dari generasi post modernism.

media massa sangat berperan dalam membawa dampak yang cukup signifikan dalam difusi inovasi media bagi masyarakat Indonesia. Hal ini didasari oleh pertama, profil masyarakat Indonesia sebagai pemirsa televisi yang cenderung meniru apa yang mereka lihat di televisi melalui sebuah proses yang disebut pembelajaran melalui pengamatanKedua, media massa di Indonesia menggunakan pendekatan Teori Agenda Setting.Teori ini menekankan tentang media massa menggunakan tokoh publik atau acara-acara penting dalam membentuk opini publik. Jumlah pemberitaan media mengenai suatu produk atau isu terbukti berbanding lurus dengan hasil pemberitaan yang diharapkan. Dan itu terbukti dalam masyarakat Indonesia yang sering menjadi korban iklan.

Teori Difusi Inovasi senantiasa dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat. Inovasi merupakan awal untuk terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial pada dasarnya merupakan inti dari pembangunan masyarakat.

Perubahan sosial sendiri terjadi dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:
(1)   Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru diciptakan atau dikembangkan.
(2)   Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru  dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial
(3)   konsekuensi adalah suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan inovasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar